Saturday, June 21, 2008
bisnis penyedia ruang
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
Peluang bagi bisnis penyedia ruang
oleh : Elvani Harifaningsih & Yeni H. Simanjuntak
Balai Sidang Jakarta atau yang dikenal dengan Jakarta Convention Center (JCC) nyaris tak pernah sepi. Pameran, konferensi, pergelaran musik, dan beragam acara besar lain selalu meramaikan gedung yang terletak di kawasan Senayan itu. Jakarta seolah tak punya banyak pilihan.
Ruang pamer yang terdiri dari Hall A seluas 3.060 meter persegi dan Hall B seluas 6.075 meter persegi, jelas membuat JCC disukai penyelenggara pameran. Kalau pekan ini digelar pameran budaya, minggu depan pameran teknologi, dilanjutkan sederet jenis pameran lainnya sudah antre untuk menyewa gedung itu.
Belum lagi penyelenggaraan konferensi bertaraf nasional hingga internasional yang kerap digelar di sana. Mungkin, saking seringnya menjadi arena beragam acara, mulai dari resmi hingga hiburan, setiap lekuk JCC mungkin sudah terekam dengan baik di kepala sebagian besar orang yang sering wira-wiri di sana.
Pernahkah terpikir berapa uang yang masuk ke kantong pengelola dan pemilik gedung JCC? Sulit untuk membayangkannya dan juga memperoleh informasi soal itu.
Namun, yang pasti, penyelenggaraan beragam konferensi dan pameran seolah tak pernah mati. Bisnis meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) seharusnya menjadi salah satu ladang subur yang menarik bagi pemilik modal di sektor properti.
"Untuk saat ini, fasilitas atau infrastruktur untuk MICE di Indonesia bisa dibilang cukup memadai. Namun, untuk dua hingga tiga tahun ke depan, memang kurang. Kalau kondisi ekonomi dan politik membaik, investor pasti akan menanamkan dananya ke sektor ini," ujar Ketua Asosiasi Kongres & Konvensi Indonesia (Indonesian Congress & Convention Association/Incca) Iqbal Alan Abdullah.
Kecenderungan untuk berinvestasi di sektor itu, menurut Iqbal, sudah mulai terlihat dari kecenderungan pelaku industri properti yang menanamkan modalnya di sektor perhotelan. Mereka mulai membangun ruang-ruang pertemuan (ballroom) berukuran besar.
"Pelaku industri properti sebenarnya punya alasan yang cukup untuk menambah investasi mereka di sektor ini [tempat-tempat pertemuan]. Buktinya, mereka sekarang membangun ballroom besar-besar. Dalam satu hotel ada tiga atau empat ruangan besar-besar. Itu menunjukkan bahwa pasar ini berkembang," tambah Iqbal.
Contohnya, PT Cipta Karya Bumi Indah (anak perusahaan PT Djarum) yang menjadi investor dengan pola built, operation and transfer (BOT) selama 30 tahun untuk merenovasi Hotel Indonesia dan membangun mal, apartemen, serta perkantoran di kawasan itu, yang kini dikenal sebagai Grand Indonesia.
Hotel Indonesia Kempinski yang hadir menggantikan Hotel Indonesia, yang ditutup sejak tiga tahun lalu itu, memiliki Grand Ballroom seluas 3.000 meter persegi dan Bali Room seluas 1.000 meter persegi.
"Dengan luas ruangan yang kami miliki, kami yakin bisa bersaing dengan hotel lain sebagai penyelenggara acara pertemuan berskala besar. Bersama-sama dengan hotel lainnya, kami akan memperkenalkan Jakarta kepada dunia luar sebagai tempat pelaksanaan MICE ," ujar Gerhard E. Mitrovits, General Manager Hotel Indonesia Kempinski.
Mencukupi
Data International Congress & Convention Association(ICCA) menunjukkan 70% dari kegiatan MICE yang diselenggarakan di seluruh dunia merupakan kegiatan yang pesertanya dihadiri 100 orang hingga 300 orang dan 10% hingga 20% lainnya merupakan kegiatan konferensi atau pertemuan yang dihadiri 300 orang hingga 1.000 orang.
Sisanya merupakan kegiatan MICE yang memiliki kepesertaan di bawah 300 orang atau di atas 1.000 orang.
Berkaca pada statistik dunia itu, menurut Iqbal, 10 daerah di Indonesia yang ditetapkan sebagai destinasi MICE, relatif memiliki kapasitas yang memadai. "Contohnya di Padang ada Hotel Bumi Minang yang memiliki ruang pertemuan cukup besar, lalu di Bukittinggi ada Bung Hatta Convention Center, demikian juga di Yogyakarta dan daerah lainnya," ujar Iqbal.
Jakarta sebenarnya juga punya pilihan yang cukup banyak, seperti kawasan Jakarta International Expo yang kerap menjadi tempat digelarnya Pekan Raya Jakarta (PRJ). Namun, lokasinya yang relatif jauh dari tengah kota Jakarta, membuat tempat tersebut sulit untuk dibandingkan dengan JCC.
"Jakarta International Expo itu sebenarnya punya tempat yang lebih luas. Cuma karena tempatnya di Kemayoran, jadi lebih jauh, sehingga agak susah untuk diakses oleh umum," kata Iqbal.
Ajang pameran dan beragam bentuk seminar atau konferensi memang seperti tidak pernah tidur. Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) memang memperkirakan kegiatan pameran akan sedikit melambat, akibat daya beli masyarakat yang menurun. Namun, itu tidak akan berlangsung lama.
Beragam jenis pameran, konferensi, dan pergelaran seni, akan terus digelar. Pemilik ruang-ruang pertemuan juga masih akan terus bisa mendulang uang dari bisnis itu.(elvani@bisnis.co.id/yeni.simanjuntak@bisnis.co.id)
(sumber;www,bisnis.com)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)















0 comments:
Post a Comment